2009-03-20

Menelusuri sejarah. Sunda. Belanda

Minggu, 8 Maret 2009 | 01:44 WIB
Oleh Henry H Loupias

Menelusuri sejarah kebudayaan Indonesia, termasuk sejarah Sunda, mau tidak mau mesti berhubungan dengan negeri Belanda. Banyak arsip dan artefak penting yang disimpan di Belanda hingga kini masih dipeliharadengan baik.

Di negeri Belanda paling tidak terdapat dua lembaga penting yang mengoleksi cukup banyak arsip dan artefak Sunda, yaitu Koninklijk Instituut voor Taal Land en Volkenkunde (KITLV) di Leiden dan Museum Tropen di Amsterdam. Bahkan, di tempat yang disebutkan terakhir, pengunjung dapat menikmati diorama dalam ukuran asli secara proporsional dan boneka model kecil. Displai tersebut berusaha membawa pengunjung pada keadaan ataupun suasana yang mendekati aslinya.

Beberapa koleksi berbentuk miniatur, seperti miniatur rumah joglo dari Jawa, dan boneka model yang mengenakan pakaian tradisional dari berbagai daerah, termasuk Bali, ditampilkan dengan jumlah koleksi cukup banyak. Tampak juga sekelompok pemain gamelan yang diperagakan dengan boneka model kecil berukuran lebih kurang 15-20 sentimeter. Meskipun ukurannya kecil, boneka itu cukup detail dan informatif. Manuskrip Sunda "buhun"

Koleksi foto dan naskah KITLV sungguh mengagumkan. Bayangkan, peta-peta kuno Kota Bandung yang orisinal dan sudah berusia sekitar seabad masih tersimpan dengan baik. Di antara peta-peta tersebut ada yang digambar secara manual dan ditulis dengan tangan. Hanya, karena sudah tua, beberapa bagian, terutama pada lipatan sedikit rusak. Namun, secara keseluruhan peta tersebut masih bisa dibaca dan digunakan sebagai dokumen atau referensi.

Salah satu koleksi KITLV yang menarik adalah sebuah manuskrip tentang permainan tradisional anak-anak Sunda yang berasal dari berbagai daerah sejak tahun 1900-an. Manuskrip tersebut terdiri dari lembaran hasil ketikan manual di atas kertas ukuran folio serta tulisan tangan. Beberapa tulisan dilengkapi dengan ilustrasi sederhana dengan medium pensil atau tinta. Ilustrasi tersebut menggambarkan cara permainan beserta peralatannya.

Manuskrip tersebut tidak dipinjamkan ke luar kecuali untuk difotokopi di tempat tersebut. Harga per lembar 0,60 euro (sekitar Rp 9.600 dengan kurs 1 euro = Rp 16.000). Jumlahnya sekitar 130 lembar. Jadi, biaya fotokopinya 130 x Rp 9.600 = Rp 1.248.000.

Jika dihitung dari harganya, itu termasuk sangat mahal. Namun, kalau kita lihat dari nilai kesejarahan, orisinalitas, dan kepentingannya mengenai sejarah kaulinan barudak di Tatar Sunda, harga tersebut tidak ada artinya. Belum tentu museum atau pusat kebudayaan Sunda di Bandung memiliki arsip serupa.

Di Museum Tropen, Amsterdam, terdapat satu paviliun yang disebut The Netherlands East Indies di lantai pertama. Isinya adalah berbagai koleksi seni budaya dari tanah Hindia Belanda, termasuk yang berasal dari Tatar Sunda.

Di salah satu displai terdapat tayangan audiovisual film dokumenter mengenai kehidupan sehari-hari keluarga Preangerplanter. Displai itu dilengkapi dengan dokumentasi foto-foto mereka di rumah dengan latar belakang para pembantu atau lebih populer dengan sebutan jongos. Jongos wanita memakai kebaya dan jongos lelaki memakai sarung dengan ikat kepala. Pada waktu itu acara minum teh sering kali dijadikan kesempatan orang Belanda yang baru datang dari negerinya untuk mengenal lingkungan sosialnya yang baru di Hindia Belanda.

Sejarah pendidikan

Di bidang sejarah pendidikan di Hindia Belanda salah satunya dipamerkan buku bacaan berjudul Bacaan Mimiti Pikeun Sakola Sunda III karangan RK Djajadiredja, TA Gaikhorst, dan N Titus. Turut dipajang buku RA Kartini, Door Duisternis tot Licht, buku Sutan Sjahrir berjudul Onze Strijd, serta sebuah buku karangan Soekarno mengenai Indonesia. Buku-buku tersebut orisinal.

Dipajang pula alat-alat tulis gerip lengkap dengan sabak sebagai alas menulisnya. Zaman dahulu, anak sekolah menulis pelajaran di atas sabak. Jika ingin belajar atau membahas materi berikutnya, sabak tersebut mesti dihapus terlebih dahulu. Dengan demikian, siswa mesti mampu mengingat, misalnya rumus hitungan yang baru saja ditulis. Jangan heran, banyak orang tua dahulu dapat mengingat sesuatu atau menghitung bilangan di luar kepala. Zaman sekarang, jika siswa lupa, ia tinggal membuka kembali buku catatannya. Bahkan dengan komputer prosesnya lebih mudah lagi.

Selain itu, terdapat gambar "sekolah" kalangan pribumi di kampung (eene inlandsche school in de kampong). Bangunannya berupa rumah panggung kecil berlantai palupuh. Dinding belakang dan sebagian dinding samping ditutupi bilik bambu. Siswa laki-laki duduk bersila mengenakan sarung dengan tutup kepala. Seorang siswa perempuan berkebaya duduk terpisah dari laki-laki. Mereka tampaknya sedang belajar membaca buku atau Al Quran yang diletakkan di atas penopang kayu.

Jika diamati secara saksama, bangunan tersebut menyerupai sebuah tajug karena di latar depan tergantung beduk dan gentong air untuk membersihkan badan atau berwudu.

Pada bagian keterangan dituliskan bahwa sekolah-sekolah di Hindia Belanda didirikan karena pihak pemerintah dan perusahaan milik Belanda memerlukan pekerja yang terlatih. Dengan cara meningkatkan pendidikan di kalangan pribumi diharapkan kebutuhan itu dapat terpenuhi. Selain itu, program tersebut merupakan salah satu kebijakan etis pihak Pemerintah Belanda waktu itu.

Di bagian lain dipajang berbagai bentuk hasil kerajinan dari bambu, kayu, dan pandan, antara lain ayakan, pengki, besek, tolombong, dan dudukuy. Bahkan pengki terdiri dari beberapa bentuk dan ukuran. Ada juga perangkap ikan di sungai yang disebut bubu dan bermacam-macam alat atau produk dari batok kelapa.

Kini barang dan alat-alat tersebut mulai langka dan jarang digunakan lagi oleh masyarakat di kota besar. Peralatan tersebut tersisih oleh produk plastik yang lebih murah dan tahan lama. Padahal, alat tersebut merupakan artefak yang menjadi bagian dari sejarah kebudayaan sebuah bangsa atau suku, misalnya suku Sunda, yang memiliki nilai historis tinggi.

HENRY H LOUPIAS Staf Pengajar Fakultas Ilmu Seni dan Sastra Universitas Pasundan



Sumber : Kompas Cetak

www.museumviews.com

0 komentar:

All about drazs

Comments


Entri Populer